Bab: Tentang Penjelasan Iman kepada Allah dan Syariat-syariat Agama.

بَابٌ: فِي بَيَانِ الْإِيمَانِ بِاللهِ وَشَرَائِعِ الدِّينِ

Bab: Tentang Penjelasan Iman kepada Allah dan Syariat-syariat Agama.

10 - (12) حَدَّثَنِي عَمْرُو بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ بُكَيْرٍ النَّاقِدُ ، حَدَّثَنَا هَاشِمُ بْنُ الْقَاسِمِ أَبُو النَّضْرِ ، حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ الْمُغِيرَةِ ، عَنْ ثَابِتٍ ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ:

10 - (12) Telah menceritakan kepadaku 'Amr bin Muhammad bin Bukair An-Naqid, telah menceritakan kepada kami Hasyim bin Al-Qasim Abu An-Nadhar, telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Al-Mughirah, dari Tsabit, dari Anas bin Malik, ia berkata:

« نُهِينَا أَنْ نَسْأَلَ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم عَنْ شَيْءٍ،

"Kami dilarang untuk menanyakan sesuatu kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

فَكَانَ يُعْجِبُنَا أَنْ يَجِيءَ الرَّجُلُ مِنْ أَهْلِ الْبَادِيَةِ، الْعَاقِلُ، فَيَسْأَلَهُ وَنَحْنُ نَسْمَعُ،

Maka kami merasa senang jika datang seorang laki-laki yang cerdas dari penduduk badui (pedalaman), lalu ia bertanya kepada beliau sementara kami mendengarkan.

فَجَاءَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْبَادِيَةِ، فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، أَتَانَا رَسُولُكَ، فَزَعَمَ لَنَا أَنَّكَ تَزْعُمُ أَنَّ اللهَ أَرْسَلَكَ؟ قَالَ: صَدَقَ،

alu datanglah seorang laki-laki dari penduduk badui, kemudian ia berkata: 'Wahai Muhammad, utusanmu telah datang kepada kami, lalu ia menyatakan kepada kami bahwa engkau mengaku bahwa Allah telah mengutusmu.' Beliau menjawab: 'Dia benar'.

قَالَ: فَمَنْ خَلَقَ السَّمَاءَ؟ قَالَ: اللهُ، قَالَ: فَمَنْ خَلَقَ الْأَرْضَ؟ قَالَ: اللهُ،

Orang itu bertanya: 'Lalu siapakah yang menciptakan langit?' Beliau menjawab: 'Allah'. Ia bertanya: 'Lalu siapakah yang menciptakan bumi?' Beliau menjawab: 'Allah'.

قَالَ: فَمَنْ نَصَبَ هَذِهِ الْجِبَالَ، وَجَعَلَ فِيهَا مَا جَعَلَ؟ قَالَ: اللهُ،

Ia bertanya: 'Lalu siapakah yang menegakkan gunung-gunung ini, dan menjadikan di dalamnya apa yang telah Dia jadikan?' Beliau menjawab: 'Allah'.

قَالَ: فَبِالَّذِي خَلَقَ السَّمَاءَ وَخَلَقَ الْأَرْضَ وَنَصَبَ هَذِهِ الْجِبَالَ، آللهُ أَرْسَلَكَ؟ قَالَ: نَعَمْ،

Ia berkata: 'Maka demi Zat yang telah menciptakan langit, menciptakan bumi, dan menegakkan gunung-gunung ini, apakah Allah yang mengutusmu?' Beliau menjawab: 'Ya'.

قَالَ: وَزَعَمَ رَسُولُكَ أَنَّ عَلَيْنَا خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي يَوْمِنَا وَلَيْلَتِنَا، قَالَ: صَدَقَ،

Ia berkata: 'Utusanmu menyatakan bahwa kami wajib mengerjakan shalat lima waktu dalam sehari semalam kami.' Beliau menjawab: 'Dia benar'.

قَالَ: فَبِالَّذِي أَرْسَلَكَ آللهُ أَمَرَكَ بِهَذَا؟ قَالَ: نَعَمْ،

Ia bertanya: 'Demi Zat yang mengutusmu, apakah Allah yang memerintahkanmu dengan ini?' Beliau menjawab: 'Ya'.

قَالَ: وَزَعَمَ رَسُولُكَ أَنَّ عَلَيْنَا زَكَاةً فِي أَمْوَالِنَا؟ قَالَ: صَدَقَ،

Ia berkata: 'Utusanmu menyatakan bahwa kami wajib mengeluarkan zakat pada harta-harta kami.' Beliau menjawab: 'Dia benar'.

قَالَ: فَبِالَّذِي أَرْسَلَكَ آللهُ أَمَرَكَ بِهَذَا؟ قَالَ: نَعَمْ،

Ia bertanya: 'Demi Zat yang mengutusmu, apakah Allah yang memerintahkanmu dengan ini?' Beliau menjawab: 'Ya'.

قَالَ: وَزَعَمَ رَسُولُكَ أَنَّ عَلَيْنَا صَوْمَ شَهْرِ رَمَضَانَ فِي سَنَتِنَا؟ قَالَ: صَدَقَ،

Ia berkata: 'Utusanmu menyatakan bahwa kami wajib berpuasa bulan Ramadhan dalam setahun kami.' Beliau menjawab: 'Dia benar'.

قَالَ: فَبِالَّذِي أَرْسَلَكَ آللهُ أَمَرَكَ بِهَذَا؟ قَالَ: نَعَمْ،

Ia bertanya: 'Demi Zat yang mengutusmu, apakah Allah yang memerintahkanmu dengan ini?' Beliau menjawab: 'Ya'.

قَالَ: وَزَعَمَ رَسُولُكَ أَنَّ عَلَيْنَا حَجَّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا؟ قَالَ: صَدَقَ،

Ia berkata: 'Utusanmu menyatakan bahwa kami wajib menunaikan haji ke Baitullah bagi siapa yang mampu menempuh jalan ke sana.' Beliau menjawab: 'Dia benar'.

قَالَ: ثُمَّ وَلَّى، قَالَ: وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ، لَا أَزِيدُ عَلَيْهِنَّ وَلَا أَنْقُصُ مِنْهُنَّ،

(Perawi berkata): Kemudian orang itu berpaling pergi seraya berkata: 'Demi Zat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak akan menambahkan atas hal-hal tersebut dan tidak akan menguranginya'.

فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم: لَئِنْ صَدَقَ لَيَدْخُلَنَّ الْجَنَّةَ .»

Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Jika ia benar, ia pasti masuk surga'."

11 - (12) حَدَّثَنِي عَبْدُ اللهِ بْنُ هَاشِمٍ الْعَبْدِيُّ ، حَدَّثَنَا بَهْزٌ ، حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ الْمُغِيرَةِ ، عَنْ ثَابِتٍ قَالَ: قَالَ أَنَسٌ:

11 - (12) Telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Hasyim Al-'Abdi, telah menceritakan kepada kami Bahz, telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Al-Mughirah, dari Tsabit, ia berkata: Anas berkata:

« كُنَّا نُهِينَا فِي الْقُرْآنِ أَنْ نَسْأَلَ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم عَنْ شَيْءٍ»، وَسَاقَ الْحَدِيثَ بِمِثْلِهِ .

"'Dahulu kami dilarang di dalam Al-Qur'an untuk menanyakan sesuatu kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam,' dan ia menyampaikan hadits yang serupa dengannya."

(باب السُّؤَالِ عَنْ أَرْكَانِ الْإِسْلَامِ فِيهِ حَدِيثُ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ نُهِينَا أَنْ نَسْأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَنْ شَيْءٍ فَكَانَ يُعْجِبُنَا أَنْ يَجِيءَ الرَّجُلُ مِنْ أَهْلِ الْبَادِيَةِ الْعَاقِلُ فَيَسْأَلُهُ وَنَحْنُ نَسْمَعُ)

Bab Bertanya tentang Rukun Islam. Di dalamnya terdapat hadis Anas *radhiyallahu 'anhu*, ia berkata: "Kami dilarang bertanya sesuatu kepada Rasulullah *shallallahu 'alaihi wa sallam*, sehingga membuat kami senang jika datang seorang laki-laki badui yang berakal lalu bertanya kepada beliau, sedangkan kami mendengarkan."

(فَجَاءَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْبَادِيَةِ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ أَتَانَا رَسُولُكَ فَزَعَمَ لَنَا أَنَّكَ تَزْعُمُ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَرْسَلَكَ قَالَ صَدَقَ إِلَى آخِرِ الْحَدِيثِ)

(Lalu datang seorang laki-laki badui dan berkata: "Wahai Muhammad, utusanmu telah datang kepada kami dan menyatakan kepada kami bahwa engkau mengklaim bahwa Allah Ta'ala mengutusmu." Beliau menjawab: "Dia benar," hingga akhir hadis).

قَوْلُهُ (نُهِينَا أَنْ نَسْأَلَ) يَعْنِي سُؤَالَ مَا لَا ضَرُورَةَ إِلَيْهِ كَمَا قَدَّمْنَا بَيَانَهُ قَرِيبًا فِي الْحَدِيثِ الْآخَرِ سلونى أى عما تَحْتَاجُونَ إِلَيْهِ

Sabda beliau *(Kami dilarang bertanya)* maksudnya adalah pertanyaan yang tidak mendesak, sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya dalam hadis lain: "Bertanyalah kepadaku," yakni tentang apa yang kalian butuhkan.

وَقَوْلُهُ (الرَّجُلُ مِنْ أَهْلِ الْبَادِيَةِ) يَعْنِي مَنْ لَمْ يَكُنْ بَلَغَهُ النَّهْيُ عَنِ السؤال

Dan perkataannya *(laki-laki dari penduduk badui)*, maksudnya adalah orang yang belum sampai kepadanya larangan bertanya.

وقوله (العاقل) لكونه أَعْرَفَ بِكَيْفِيَّةِ السُّؤَالِ وَآدَابِهِ وَالْمُهِمِّ مِنْهُ وَحُسْنِ الْمُرَاجَعَةِ

Dan perkataannya *(yang berakal)*, karena orang yang berakal lebih mengetahui cara bertanya, adab-adabnya, mana yang penting, dan cara berdiskusi dengan baik.

فَإِنَّ هَذِهِ أَسْبَابُ عِظَمِ الِانْتِفَاعِ بِالْجَوَابِ

Karena hal-hal ini adalah sebab besarnya manfaat yang didapat dari jawaban.

وَلِأَنَّ أَهْلَ الْبَادِيَةِ هُمُ الْأَعْرَابُ وَيَغْلِبُ فِيهِمُ الْجَهْلُ وَالْجَفَاءُ وَلِهَذَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ مَنْ بَدَا جَفَا

Dan karena penduduk badui adalah orang-orang Arab pedalaman yang umumnya didominasi oleh kebodohan dan kekasaran, oleh karena itu disebutkan dalam hadis: "Barangsiapa tinggal di badui (pedalaman), ia akan menjadi kasar."

وَالْبَادِيَةُ وَالْبَدْوُ بِمَعْنًى وَهُوَ مَا عَدَا الْحَاضِرَةَ وَالْعُمْرَانَ

Kata *Al-Baadiyah* dan *Al-Badwu* memiliki makna yang sama, yaitu wilayah selain kota dan pemukiman ramai.

وَالنِّسْبَةُ إِلَيْهَا بَدْوِيٌّ وَالْبِدَاوَةُ الْإِقَامَةُ بِالْبَادِيَةِ

Nisbat kepadanya adalah *Badwiy* (orang badui), dan *Al-Bidaawah* adalah (keadaan) tinggal di badui.

وَهِيَ بِكَسْرِ الْبَاءِ عِنْدَ جُمْهُورِ أَهْلِ اللُّغَةِ وَقَالَ أَبُو زَيْدٍ هِيَ بِفَتْحِ الْبَاءِ

Kata tersebut (*Bidaawah*) dibaca dengan kasrah pada huruf *Ba* menurut mayoritas ahli bahasa, sedangkan Abu Zaid berkata dibaca dengan fathah *Ba* (*Badaawah*).

قَالَ ثَعْلَبٌ لَا أَعْرِفُ الْبَدَاوَةَ بِالْفَتْحِ إِلَّا عَنْ أَبِي زَيْدٍ

Tsa'lab berkata: "Aku tidak mengetahui *Al-Badaawah* dengan fathah kecuali dari Abu Zaid."

قَوْلُهُ (فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ) قَالَ الْعُلَمَاءُ لَعَلَّ هَذَا كَانَ قَبْلَ النَّهْيِ عَنْ مُخَاطَبَتِهِ صلى الله عليه وسلم بِاسْمِهِ

Perkataannya *(Lalu ia berkata: "Wahai Muhammad")*, para ulama berkata: mungkin ini terjadi sebelum adanya larangan memanggil beliau *shallallahu 'alaihi wa sallam* dengan namanya langsung.

قَبْلَ نُزُولِ قَوْلِ اللَّهِ عز وجل لَا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بينكم كدعاء بعضكم بعضا عَلَى أَحَدِ التَّفْسِيرَيْنِ

Yaitu sebelum turunnya firman Allah *Azza wa Jalla*: *Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian yang lain*, menurut salah satu dari dua tafsir (ayat tersebut).

أَيْ لَا تَقُولُوا يَا مُحَمَّدُ بَلْ يَا رَسُولَ اللَّهِ يَا نَبِيَّ اللَّهِ

Artinya: Janganlah kalian mengatakan "Wahai Muhammad", melainkan "Wahai Rasulullah" atau "Wahai Nabi Allah".

وَيُحْتَمَلُ أَنْ يَكُونَ بَعْدَ نُزُولِ الْآيَةِ وَلَمْ تَبْلُغِ الْآيَةُ هَذَا الْقَائِلَ

Dan mungkin juga kejadian ini setelah turunnya ayat tersebut, namun ayat itu belum sampai kepada si pengucap ini.

وَقَوْلُهُ (زَعَمَ رَسُولُكُ أَنَّكَ تَزْعُمُ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَرْسَلَكَ قَالَ صَدَقَ)

Dan perkataannya *(Utusanmu mengklaim bahwa engkau mengklaim bahwa Allah Ta'ala mengutusmu. Beliau menjawab: Dia benar)*.

فَقَوْلُهُ زَعَمَ وَتَزْعُمُ مَعَ تَصْدِيقِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِيَّاهُ دَلِيلٌ عَلَى أَنْ زَعَمَ لَيْسَ مَخْصُوصًا بِالْكَذِبِ وَالْقَوْلِ الْمَشْكُوكِ فِيهِ

Maka perkataannya "Za'ama" (mengklaim/menyatakan) dan "Taz'umu", disertai pembenaran Rasulullah *shallallahu 'alaihi wa sallam* terhadapnya, adalah dalil bahwa kata "Za'ama" tidak khusus bermakna dusta atau ucapan yang diragukan.

بَلْ يَكُونُ أَيْضًا فِي القول المحقق والصدق الذى لاشك فِيهِ وَقَدْ جَاءَ مِنْ هَذَا كَثِيرٌ فِي الْأَحَادِيثِ

Tetapi bisa juga digunakan untuk ucapan yang pasti dan benar yang tidak ada keraguan di dalamnya, dan hal ini banyak terdapat dalam hadis-hadis.

وَعَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ زَعَمَ جِبْرِيلُ كَذَا

Dan dari Nabi *shallallahu 'alaihi wa sallam*, beliau bersabda: "Jibril *za'ama* (menyatakan) demikian."

وَقَدْ أَكْثَرَ سِيبَوَيْهِ وَهُوَ إِمَامُ الْعَرَبِيَّةِ فِي كِتَابِهِ الَّذِي هُوَ إِمَامُ كُتُبِ الْعَرَبِيَّةِ مِنْ قَوْلِهِ زَعَمَ الْخَلِيلُ زَعَمَ أَبُو الْخَطَّابِ يُرِيدُ بِذَلِكَ الْقَوْلَ الْمُحَقَّقَ

Sibawaih, imam bahasa Arab, sering menggunakan dalam bukunya—yang merupakan induk buku-buku bahasa Arab—ungkapan "Za'ama Al-Khalil", "Za'ama Abu Al-Khattab", dengan maksud perkataan yang pasti/benar.

وَقَدْ نَقَلَ ذَلِكَ جَمَاعَاتٌ مِنْ أَهْلِ اللُّغَةِ وَغَيْرِهِمْ

Hal ini telah dinukil oleh sekelompok ahli bahasa dan selain mereka.

وَنَقَلَهُ أَبُو عُمَرَ الزَّاهِدُ فِي شَرْحِ الْفَصِيحِ عَنْ شَيْخِهِ أَبِي الْعَبَّاسِ ثَعْلَبٍ عَنِ الْعُلَمَاءِ بِاللُّغَةِ مِنَ الْكُوفِيِّينَ وَالْبَصْرِيِّينَ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Abu Umar Az-Zahid menukilnya dalam *Syarah Al-Fashih* dari gurunya Abu Al-Abbas Tsa'lab, dari para ulama bahasa Kufah dan Bashrah. *Wallahu a'lam*.

ثُمَّ اعْلَمْ أَنَّ هَذَا الرَّجُلَ الَّذِي جَاءَ مِنْ أَهْلِ الْبَادِيَةِ اسْمُهُ ضِمَامُ بْنُ ثَعْلَبَةَ بِكَسْرِ الضَّادِ الْمُعْجَمَةِ

Kemudian ketahuilah bahwa laki-laki badui yang datang ini bernama Dhimam bin Tsa'labah, dengan kasrah pada huruf *Dhad* yang bertitik.

كَذَا جَاءَ مُسَمًّى فِي رِوَايَةِ الْبُخَارِيِّ وَغَيْرِهِ

Demikianlah namanya disebutkan dalam riwayat Al-Bukhari dan lainnya.

قَوْلُهُ (قَالَ فَمَنْ خَلَقَ السَّمَاءَ قَالَ اللَّهُ قَالَ فَمَنْ خَلَقَ الْأَرْضَ قَالَ اللَّهُ قَالَ فَمَنْ نَصَبَ هَذِهِ الْجِبَالَ وَجَعَلَ فِيهَا مَا جَعَلَ قَالَ اللَّهُ

Perkataannya *(Ia bertanya: Siapakah yang menciptakan langit? Beliau menjawab: Allah. Ia bertanya: Siapakah yang menciptakan bumi? Beliau menjawab: Allah. Ia bertanya: Siapakah yang menegakkan gunung-gunung ini dan menjadikan apa yang ada padanya? Beliau menjawab: Allah)*.

قَالَ فَبِالَّذِي خَلَقَ السَّمَاءَ وَخَلَقَ الْأَرْضَ وَنَصَبَ هَذِهِ الْجِبَالَ آللَّهُ أَرْسَلَكَ قَالَ نَعَمْ

*(Ia berkata: Maka demi Zat yang menciptakan langit, bumi, dan menegakkan gunung-gunung ini, apakah Allah yang mengutusmu? Beliau menjawab: Ya)*.

قَالَ وَزَعَمَ رَسُولُكَ أَنَّ عَلَيْنَا خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي يَوْمِنَا وَلَيْلَتِنَا قَالَ صَدَقَ قَالَ فَبِالَّذِي أَرْسَلَكَ آللَّهُ أَمَرَكَ بِهَذَا قَالَ نَعَمْ)

*(Ia berkata: Utusanmu menyatakan bahwa kami wajib shalat lima waktu sehari semalam. Beliau menjawab: Dia benar. Ia berkata: Demi Zat yang mengutusmu, apakah Allah yang memerintahkanmu dengan ini? Beliau menjawab: Ya)*.

هَذِهِ جُمْلَةٌ تَدُلُّ عَلَى أَنْوَاعٍ مِنَ الْعِلْمِ

Ini adalah kalimat-kalimat yang menunjukkan berbagai jenis ilmu.

قَالَ صَاحِبُ التَّحْرِيرِ هَذَا مِنْ حُسْنِ سُؤَالِ هَذَا الرَّجُلِ وَمَلَاحَةِ سياقته وترتيبه

Penulis kitab *At-Tahrir* berkata: "Ini termasuk bagusnya pertanyaan orang ini serta indahnya penyusunan dan urutannya."

فَإِنَّهُ سَأَلَ أَوَّلًا عَنْ صَانِعِ الْمَخْلُوقَاتِ مَنْ هُوَ ثُمَّ أَقْسَمَ عَلَيْهِ بِهِ أَنْ يَصْدُقَهُ فِي كَوْنِهِ رَسُولًا لِلصَّانِعِ

"Karena pertama-tama ia bertanya tentang Pencipta makhluk, siapa Dia? Kemudian ia bersumpah atas nama-Nya agar beliau jujur kepadanya tentang keberadaan beliau sebagai utusan Sang Pencipta."

ثُمَّ لَمَّا وَقَفَ عَلَى رِسَالَتِهِ وَعِلْمِهَا أَقْسَمَ عَلَيْهِ بِحَقِّ مُرْسِلِهِ

"Kemudian setelah ia mengetahui kerasulan beliau, ia bersumpah kepada beliau dengan hak Zat yang mengutus beliau."

وَهَذَا تَرْتِيبٌ يَفْتَقِرُ إِلَى عَقْلٍ رَصِينٍ

"Dan urutan ini membutuhkan akal yang cerdas dan kokoh."

ثُمَّ إِنَّ هَذِهِ الْأَيْمَانَ جَرَتْ لِلتَّأْكِيدِ وَتَقْرِيرِ الْأَمْرِ لَا لِافْتِقَارِهِ إِلَيْهَا كَمَا أَقْسَمَ اللَّهُ تَعَالَى عَلَى أَشْيَاءَ كَثِيرَةٍ

"Kemudian, sumpah-sumpah ini diucapkan untuk penekanan dan penguatan perkara, bukan karena beliau membutuhkannya (untuk dipercaya), sebagaimana Allah Ta'ala bersumpah atas banyak hal."

هَذَا كَلَامُ صَاحِبِ التَّحْرِيرِ

Demikianlah perkataan penulis *At-Tahrir*.

قَالَ الْقَاضِي عِيَاضٌ وَالظَّاهِرُ أَنَّ هَذَا الرَّجُلَ لَمْ يَأْتِ إِلَّا بَعْدَ إِسْلَامِهِ وَإِنَّمَا جَاءَ مُسْتَثْبِتًا وَمُشَافِهًا لِلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Al-Qadhi Iyadh berkata: "Yang nampak jelas adalah bahwa orang ini tidak datang kecuali setelah ia masuk Islam, ia datang hanya untuk memastikan dan bertemu langsung dengan Nabi *shallallahu 'alaihi wa sallam*. *Wallahu a'lam*."

وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ جُمَلٌ مِنَ الْعِلْمِ غَيْرُ مَا تَقَدَّمَ مِنْهَا أَنَّ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسَ مُتَكَرِّرَةٌ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ

Dalam hadis ini terdapat beberapa poin ilmu selain yang telah disebutkan, di antaranya bahwa shalat lima waktu itu berulang setiap sehari semalam.

وَهُوَ مَعْنَى قَوْلِهِ فِي يَوْمِنَا وَلَيْلَتِنَا

Itulah makna perkataannya: "dalam sehari semalam kami".

وَأَنَّ صَوْمَ شَهْرِ رَمَضَانَ يَجِبُ فِي كُلِّ سَنَةٍ

Dan bahwa puasa bulan Ramadhan wajib setiap tahun.

قَالَ الشَّيْخُ أَبُو عَمْرِو بْنُ الصَّلَاحِ رحمه الله وَفِيهِ دَلَالَةٌ لِصِحَّةِ مَا ذَهَبَ إِلَيْهِ أَئِمَّةُ الْعُلَمَاءِ

Syaikh Abu Amr bin Ash-Shalah *rahimahullah* berkata: Di dalamnya terdapat dalil atas kebenaran pendapat para imam ulama.

مِنْ أَنَّ الْعَوَامَّ الْمُقَلِّدِينَ مُؤْمِنُونَ وَأَنَّهُ يُكْتَفَى مِنْهُمْ بِمُجَرَّدِ اعْتِقَادِ الْحَقِّ جَزْمًا مِنْ غَيْرِ شَكٍّ وَتَزَلْزُلٍ

Yaitu bahwa orang awam yang taklid adalah orang beriman, dan bahwa cukup bagi mereka sekadar meyakini kebenaran dengan pasti tanpa keraguan dan kegoyahan.

خِلَافًا لِمَنْ أَنْكَرَ ذَلِكَ مِنَ الْمُعْتَزِلَةِ

Berbeda dengan pendapat kaum Mu'tazilah yang mengingkari hal tersebut.

وَذَلِكَ أَنَّهُ صلى الله عليه وسلم قرر ضماما عَلَى مَا اعْتَمَدَ عَلَيْهِ فِي تَعَرُّفِ رِسَالَتِهِ وَصِدْقِهِ وَمُجَرَّدِ إِخْبَارِهِ إِيَّاهُ بِذَلِكَ

Hal itu karena beliau *shallallahu 'alaihi wa sallam* membenarkan Dhimam atas apa yang ia jadikan sandaran dalam mengetahui kerasulan dan kejujuran beliau, serta sekadar pemberitahuan beliau kepadanya.

وَلَمْ يُنْكِرْ عَلَيْهِ ذَلِكَ وَلَا قَالَ يَجِبُ عَلَيْكَ مَعْرِفَةُ ذَلِكَ بِالنَّظَرِ فِي مُعْجِزَاتِي وَالِاسْتِدْلَالِ بِالْأَدِلَّةِ الْقَطْعِيَّةِ

Beliau tidak mengingkarinya, dan tidak pula berkata: "Engkau wajib mengetahui hal itu dengan meneliti mukjizatku dan berdalil dengan dalil-dalil yang *qath'i* (pasti)."

هَذَا كَلَامُ الشَّيْخِ وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ الْعَمَلُ بِخَبَرِ الْوَاحِدِ وَفِيهِ غَيْرُ ذَلِكَ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Inilah perkataan Syaikh (Ibnu Shalah). Dan dalam hadis ini terdapat dalil bolehnya mengamalkan *khabar ahad* (berita perorangan), dan pelajaran lainnya. *Wallahu a'lam*.