بَابٌ: فِي بَيَانِ الْإِيمَانِ بِاللهِ وَشَرَائِعِ الدِّينِ Bab: Tentang Penjelasan Iman kepada Allah dan Syariat-syariat Agama. 10 - (12) حَدَّثَنِي عَمْرُو بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ بُكَيْرٍ النَّاقِدُ ، حَدَّثَنَا هَاشِمُ بْنُ الْقَاسِمِ أَبُو النَّضْرِ ، حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ الْمُغِيرَةِ ، عَنْ ثَابِتٍ ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: 10 - (12) Telah menceritakan kepadaku 'Amr bin Muhammad bin Bukair An-Naqid, telah menceritakan kepada kami Hasyim bin Al-Qasim Abu An-Nadhar, telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Al-Mughirah, dari Tsabit, dari Anas bin Malik, ia berkata: « نُهِينَا أَنْ نَسْأَلَ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم عَنْ شَيْءٍ، "Kami dilarang untuk menanyakan sesuatu kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. فَكَانَ يُعْجِبُنَا أَنْ يَجِيءَ الرَّجُلُ مِنْ أَهْلِ الْبَادِيَةِ، الْعَاقِلُ، فَيَسْأَلَهُ وَنَحْنُ نَسْمَعُ، Maka kami merasa senang jika datang seorang laki-laki yang cerdas dari penduduk badui (pedalaman), lalu ia bertanya kepada be...
بَابُ بَيَانِ الصَّلَوَاتِ الَّتِي هِيَ أَحَدُ أَرْكَانِ الْإِسْلَامِ. Bab penjelasan tentang shalat-shalat yang merupakan salah satu rukun Islam. 8 - (11) حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدِ بْنِ جَمِيلِ بْنِ طَرِيفِ بْنِ عَبْدِ اللهِ الثَّقَفِيُّ ، عَنْ مَالِكِ بْنِ أَنَسٍ فِيمَا قُرِئَ عَلَيْهِ، عَنْ أَبِي سُهَيْلٍ ، عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ سَمِعَ طَلْحَةَ بْنَ عُبَيْدِ اللهِ يَقُولُ: 8 - (11) Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id bin Jamil bin Tharif bin Abdillah Ats-Tsaqafi, dari Malik bin Anas mengenai apa yang dibacakan kepadanya, dari Abu Suhail, dari ayahnya, bahwa ia mendengar Thalhah bin 'Ubaidillah berkata: « جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم مِنْ أَهْلِ نَجْدٍ ثَائِرُ الرَّأْسِ نَسْمَعُ دَوِيَّ صَوْتِهِ، وَلَا نَفْقَهُ مَا يَقُولُ، حَتَّى دَنَا مِنْ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم، فَإِذَا هُوَ يَسْأَلُ عَنِ الْإِسْلَامِ، "Datang seorang laki-laki kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dari penduduk Nejed dengan rambut k...
واختلفا الْعُلَمَاءُ مِنَ السَّلَفِ وَغَيْرِهِمْ فِي إِطْلَاقِ الْإِنْسَانِ قَوْلَهُ أَنَا مُؤْمِنٌ Para ulama dari kalangan salaf dan selain mereka berbeda pendapat. Yaitu tentang seseorang yang mengucapkan: "Aku seorang mukmin." فَقَالَتْ طَائِفَةٌ لَا يَقُولُ أَنَا مُؤْمِنٌ مُقْتَصِرًا عَلَيْهِ بَلْ يَقُولُ أَنَا مُؤْمِنٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ Suatu kelompok berkata: Ia tidak boleh hanya berkata "Aku seorang mukmin" secara mutlak. Akan tetapi ia mengatakan: "Aku seorang mukmin, insya Allah." وَحَكَى هَذَا الْمَذْهَبَ بَعْضُ أَصْحَابِنَا عَنْ أَكْثَرِ أَصْحَابِنَا الْمُتَكَلِّمِينَ Sebagian sahabat kami menukil madzhab ini dari mayoritas sahabat kami dari kalangan ahli kalam. وَذَهَبَ آخرون إلى جواز الاطلاق وأنه لايقول إِنْ شَاءَ اللَّهُ وَهَذَا هُوَ الْمُخْتَارُ وَقَوْلُ أَهْلِ التَّحْقِيقِ Kelompok lain berpendapat bolehnya menyatakan secara mutlak. Dan bahwa ia tidak mengatakan "insya Allah". Inilah pendapat yang terpilih. Dan inilah pendapat A...